Berpihak pada anak


Tak terasa hampir di penghujung tahun 2019. Februari bulan depan, langkah kami bersama di Sekar memasuki tahun ke 9. Kami disini adalah saya dan beberapa sahabat saya yang dulu pernah mengajar sama- sama di salah satu sekolah swasta di Balikpapan. Merasa sepemahaman, senasib dan seperjuangan, kami pun bersama- sama membuka bimbingan belajar Sekar. Tahun 2020 nanti artinya sudah 9 tahun kami bersama. Jika diibaratkan seorang anak maka masa wiraga kami sudah berakhir, meski masih berorientasi pada 'sekedar bermain', namun di usia ke 9 kami harus bisa menentukan langkah dan lebih 'seriyes'. Hehehe....jadi selama ini kami tuh nggak seriyes dalam berkarya ya. :) memang selama 8 tahun ini kami masih terus belajar dan menemukan banyak hal baru dalam perjalanan kami bersama. Satu yang menjadi orientasi kami, setiap hal yang kami lakukan harus berpihak pada anak, apa yang mereka perlukan, kami harus memahami mereka supaya kami bisa belajar bersama mereka.
Flash back di tahun pertama, Sekar hanya sebuah tempat bimbingan belajar dengan beberapa orang pengajar dan segelintir anak- anak yang belajar bersama dengan sebuah ruang berbatas sekat sederhana dan sebuah papan tulis berukuran sedang, sekedar untuk menorehkan coretan. Metode belajarnya pun santai dan menyenangkan, kami berusaha memahami kondisi anak- anak yang sudah sepanjang hari berkutat dengan formalitas sekolah, maka ketika orangtua mereka mengantarkan mereka ke Sekar untuk mengerjakan PR atau sekedar mengulang materi yang tadi tak terpahami di sekolah, situasinya harus nyaman dan menyenangkan. Anak- anak menyukai hal ini, karena mereka suka, pelajaran yang tadinya tak mereka pahami menjadi bisa dimengerti, maka dari promosi mulut ke mulut, semakin banyak orangtua yang membawa anak- anaknya belajar bersama kami di Sekar. Hal itu menggiring kami pada kondisi dimana kami harus membongkar beberapa ruangan dan menjadikannya ruang kelas. Anak- anak yang belajar bersama kami semakin banyak, dari tahun pertama anak- anak bersama kami kurang dari 10 anak di tahun kedua dan ketiga hampir mencapai 5-8 kali lipat. Anak- anak merasa nyaman dan dipahami, mereka bisa bertanya dan bercerita banyak hal bersama kami.
Di tahun ke tiga sejak kami memulai perjalanan kami, atas berkat Tuhan dan dukungan dari orangtua murid, kami pun membuka Taman Kanak- kanak. Kami pun memberi nama sekolah kami Sekar Pelangi, sekedar menggambarkan filosofi sederhana mengenai keberagaman dan warna warni dunia anak- anak. Kalau mengingat kembali waktu itu, saya kok jadi berpikir kami cukup sinting. Tapi entah bagaimana dari tahun 2013 kami membuka kelas bermodal iman dan sedikit pengalaman, kami berjalan bersama 10 anak dengan 3 guru. Tahun berikutnya peserta didik semakin bertambah, bahkan di tahun 2016 kami diberkati dengan sebuah bangunan dari donatur di Batakan untuk menjadi cabang sekolah Sekar Pelangi.

Komentar

Posting Komentar